Hujan bukan berarti sendu, bukan?
Dini hari tadi hujan sudah meriuhkan membawa rombongannya. Kawannya membuat aroma tanah tercium tajam. Beriring perasaan yang mencoba mengenalmu semakin tajam.
Menjelang pagi, ia tak kunjung pergi. Mungkin ia masih betah berada di bumi, membasahi apa saja yang dikenainya. Bisa jadi jugakah ia membasahi jiwa-jiwa yang kering dan hati yang kosong? Bisa kok. Apa yang gabisa.
Begitupun saat siang lalu menjelang sore, hujan beserta kawannya masih asyik bermain. Riuhnya semakin asyik. Rintiknya memanjakan perasaan-perasaan yang mengembang dibatas waktu.
Sementara aku, masih saja sendu. Mempersoalkan diri yang tiada habisnya belajar memahamimu.
Hampir saja lupa, bukankah memahami dirimu merupakan pembelajaran tiada habisnya? Lalu mengapa diri masih sendu karena belum bisa sepenuhnya mengerti? Bukankah hujan di luar sana mengajakmu tertawa? Ia tak mengajakmu bersendu.
Hey, hujan tak berarti sendu bukan? Ia justru diturunkan bagi apapun. Bagi siapapun. Yang lelah dengan keringnya perasaan-perasaan tak bersalah.
"Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dialah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (QS. 42:1)
Satu lagi, bukankah salah satu waktu mustajab berdo'a adalah saat turun hujan? Maka mari hujankan do'a-do'a terbaik. Untukku. Untukmu. Untuknya. Untuk kita.
Hujan tak berarti sendu, bukan?
22 Januari 2018,
Ruang Kamila
Menjelang pagi, ia tak kunjung pergi. Mungkin ia masih betah berada di bumi, membasahi apa saja yang dikenainya. Bisa jadi jugakah ia membasahi jiwa-jiwa yang kering dan hati yang kosong? Bisa kok. Apa yang gabisa.
Begitupun saat siang lalu menjelang sore, hujan beserta kawannya masih asyik bermain. Riuhnya semakin asyik. Rintiknya memanjakan perasaan-perasaan yang mengembang dibatas waktu.
Sementara aku, masih saja sendu. Mempersoalkan diri yang tiada habisnya belajar memahamimu.
Hampir saja lupa, bukankah memahami dirimu merupakan pembelajaran tiada habisnya? Lalu mengapa diri masih sendu karena belum bisa sepenuhnya mengerti? Bukankah hujan di luar sana mengajakmu tertawa? Ia tak mengajakmu bersendu.
Hey, hujan tak berarti sendu bukan? Ia justru diturunkan bagi apapun. Bagi siapapun. Yang lelah dengan keringnya perasaan-perasaan tak bersalah.
"Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dialah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (QS. 42:1)
Satu lagi, bukankah salah satu waktu mustajab berdo'a adalah saat turun hujan? Maka mari hujankan do'a-do'a terbaik. Untukku. Untukmu. Untuknya. Untuk kita.
Hujan tak berarti sendu, bukan?
22 Januari 2018,
Ruang Kamila
Komentar
Posting Komentar